Header Ads

In This Home, the Sound of Fingerboarding Is Always Welcome

"Sebenarnya fingerboard nggak begitu banyak mengubah hidup saya. Cuma, di tiap fase kehidupan saya, selalu ada fingerboard di sana. Aseek," ucapnya.

Kalimat itu langsung keluar saat Firdaus Ramdhan menceritakan hubungannya dengan papan kecil beroda empat yang sudah menemaninya sejak 2010.

FLIKMAG | Worldwide Magazine on Fingerboard Culture

Kalau ditanya bagaimana awal semuanya dimulai, jawabannya mungkin terdengar sangat familiar bagi banyak fingerboarder. "Waktu itu ada teman bawa Tech Deck ke sekolah."

Saat itu, Tech Deck memang sempat jadi tren. Satu sekolah ramai memainkan papan mini itu, termasuk Firdaus. Bedanya, ketika teman-temannya mulai berhenti, justru dia yang terus bertahan. Alasannya sederhana. Sejak awal, kecintaannya bukan hanya pada fingerboard, tetapi juga skateboard. "Teman-teman lain berhenti. Saya malah lanjut terus. Soalnya saya memang suka skateboard," kata ia.

Namun hubungan Firdaus dengan skateboard tidak berjalan lama. Ada banyak alasan yang membuatnya perlahan menjauh dari papan berukuran asli itu. Pertama, di Banjarmasin belum ada skatepark atau tempat bermain yang benar-benar proper. Kedua, cuacanya panas. Ketiga, ia pernah mengalami cedera cukup parah saat mencoba sebuah obstacle. Dan yang paling membekas, ia pernah dicap sebagai poser"Lumayan kena mental juga sih," kenangnya.

Sejak saat itu, kecintaannya terhadap skateboard seperti menemukan rumah baru di fingerboard. "Karena basic-nya sama."

Meski ukurannya jauh lebih kecil, sensasi mempelajari trick tetap memberikan kepuasan yang sulit dijelaskan. Firdaus bahkan masih mengingat jelas momen pertama kali berhasil melakukan ollie. "Rasa senangnya masih kebayang sampai hari ini."

Hingga sekarang, di usia 31 tahun, fingerboard masih menjadi bagian dari rutinitas hariannya. Di sela pekerjaan dan kesibukannya membuat konten, hampir selalu ada waktu beberapa menit untuk memainkan setup favoritnya. "Hampir tiap hari ada waktu main, walaupun cuma sebentar."

Di rumah, ia sudah menyiapkan satu sudut khusus untuk fingerboard. Begitu muncul keinginan untuk mencoba trick atau sekadar bermain, ia tinggal mengambil setup tanpa perlu persiapan panjang. "Simple. Tinggal ambil setup aja. Nggak perlu prepare kayak main game console atau PC," lanjut Firdaus.

Kalau dipikir-pikir, alasan Firdaus masih bertahan memainkan fingerboard ternyata bukan sekadar karena hobi lama yang sulit ditinggalkan. Semua berawal dari kebiasaannya semasa SMA.

Dulu, entah berapa jam setiap hari ia bisa duduk di depan laptop, menonton video skateboard dari SVS sambil memainkan fingerboard di meja. Setiap trick yang muncul di layar selalu ia coba tirukan dengan jari-jarinya. Kebiasaan itu ternyata tidak pernah benar-benar hilang. Hanya saja, sekarang ada alasan baru. "Bikin konten."

Meski sambil merendah menyebut skill-nya "seadanya", justru lewat konten itulah Firdaus merasa seluruh hobinya seperti kembali bertemu dalam satu tempat. Hobi skateboard tersalurkan lewat fingerboard. Hobi fotografi terpakai untuk memotret setup. Ketertarikan membuat film hidup lagi saat merekam trick. Bahkan kebiasaannya dulu rutin ngeblog dan menulis seminggu sekali terasa terwakili lewat konten-konten yang ia unggah. "Karena menurut saya, intinya sama-sama menyampaikan cerita," urainya.

Dan mungkin memang itu yang membuat fingerboard tidak pernah benar-benar pergi dari hidup Firdaus. Bukan karena ukuran papannya. Melainkan karena, di setiap fase hidupnya, selalu ada cerita yang bisa disampaikan lewat papan kecil itu.

Kalau ada satu hal yang paling sering dipelajari Firdaus dari fingerboard, mungkin itu adalah kesabaran. Saat sebuah trick belum berhasil, ia tidak pernah terlalu memaksakan diri. "Ya udah. Hari ini belum dapet, besok dicoba lagi. Pasti dapet. Berarti belum ketemu celahnya aja." Cara berpikir itu ternyata tidak hanya berlaku di atas papan kecil. Menurutnya, fingerboard sangat mirip dengan kehidupan. "Bayi nggak ada yang bisa langsung lari. Sama kayak fingerboard, pemula nggak ada yang bisa langsung nollie heel."

Banyak orang ingin semuanya serba cepat. Baru main seminggu sudah berharap jago. Baru setahun sudah ingin disponsori atau dikenal banyak orang. "Bisa aja sih kalau memang berbakat. Tapi kan nggak semua orang begitu." Karena itu, Firdaus memilih menikmati prosesnya. "Jalanin aja. Nanti suatu saat pasti bisa sendiri kok. Trick idaman pasti bakal landing. Nggak perlu buru-buru." 

Di matanya, fingerboard memang terlihat seperti mainan. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. "Aslinya sama kayak cabang olahraga lain. Butuh latihan, konsistensi, dan kesabaran."

Selama belasan tahun bermain fingerboard, Firdaus mengaku hampir tidak pernah terpikir untuk berhenti. Justru sebaliknya, fingerboard menjadi tempatnya pulang ketika hidup terasa terlalu ramai. "Fingerboard itu pelarian banyak hal dalam hidup saya." 

Ia menggambarkan momen itu seperti menekan tombol pause. Saat sedang bermain, kebisingan di dalam kepala perlahan menghilang. Pikiran yang biasanya dipenuhi urusan pekerjaan, rutinitas, atau tekanan hidup berganti dengan suara yang sangat akrab di telinganya. "Bunyi cetak-cetak fingerboard," katanya sambil tertawa.

Di balik semua itu, ada satu sosok yang menurut Firdaus ikut membuat hobinya tetap bertahan sampai sekarang: istrinya. "Alhamdulillah istri mendukung banget. Kalau nggak didukung, kayaknya saya udah berhenti main dari lama." Dukungan itu, menurutnya, hadir dalam hal-hal sederhana, mulai dari mengizinkan suara "cetak-cetak" fingerboard memenuhi rumah, memberi ruang khusus untuk bermain, membiarkannya membeli parts yang harganya tidak murah, hingga membiarkannya bermain berjam-jam tanpa diganggu.

Meski sudah bermain sejak 2010, Firdaus merasa dunia fingerboard di Banjarmasin masih sangat kecil. Ia bahkan mengaku belum benar-benar memiliki komunitas aktif. Karena itulah ia membuat akun Instagram Banjarmasin Fingerboard dengan harapan para fingerboarder di kota itu suatu hari bisa saling menemukan dan bermain bersama. "Semoga suatu saat fingerboard di sini bisa rame," harapnya.

Sekarang target Firdaus sebenarnya sederhana. Ia hanya ingin terus konsisten membuat konten. "Nggak tahu sampai kapan." Ia sadar, di luar sana banyak fingerboarder yang kemampuan trick-nya jauh di atas dirinya. Namun ia memilih fokus pada hal yang bisa ia kendalikan. "Kalau saya nggak apa-apa deh nggak jago-jago amat, asal konsisten." 

Sosok yang paling menginspirasinya adalah Mike Schneider, yang sudah belasan tahun konsisten mengunggah video fingerboard di YouTube. "Dia jago. Sayangnya saya nggak bisa jago, tapi kabar baiknya saya bisa untuk konsisten." Baginya, itu sudah cukup. Terus membuat video, terus belajar, dan semoga suatu hari bisa menginspirasi orang lain untuk ikut bermain fingerboard.

Di usia 31 tahun, ada satu hal lagi yang paling ia syukuri. "Alhamdulillah makin tua, finansial makin stabil. Jadi buat jajan hobi fingerboard yang mahal ini udah sanggup. Wkwkwk." Pada akhirnya, bagi Firdaus, fingerboard bukan hanya soal trick yang berhasil didaratkan atau setup yang dimiliki. Fingerboard adalah ruang kecil untuk berhenti sejenak dari riuhnya kehidupan, belajar sabar, menikmati proses, dan membiarkan suara "cetak-cetak" menggantikan semua kebisingan di dalam kepala. (Flikmagazine)

close
pop up banner