If It Weren't for Fingerboarding, I'd Probably Be a Loner
Kalau ngobrol sama Salman Al Farisi, atau yang lebih akrab dipanggil Faris, kesannya santai banget. Cowok 28 tahun asal Palembang ini sekarang lagi lanjut kuliah sambil ngeband tipis-tipis. Di media sosial dia bisa ditemui di @sifarisi3, sementara buat yang pengin lihat aksi jarinya di atas fingerboard, tinggal mampir ke @stifffinger.
Sebelum fingerboard masuk ke hidupnya, Faris mengaku dirinya sama seperti anak sekolah pada umumnya. Uang jajannya habis buat hal-hal yang mungkin juga dialami banyak anak generasi itu. "Anak skolahan biasa yang ngabisin duit jajan buat rental PS2, warnet, beli kelereng, layangan, Tamiya, dan lain-lain," kenangnya.
FLIKMAG | Worldwide Magazine on Fingerboard Culture
Momen pertama kali melihat fingerboard bahkan masih dia ingat sampai sekarang. Bukan cuma tahunnya, tapi juga tanggalnya: 19 November 2010. "Awal banget tahu skateboard ada versi mininya itu tanggal 19 November 2010. Kok bisa ingat tanggalnya? Yap, itu bertepatan sama tanggal rilis global film Harry Potter 7 Part 1," cerita Faris.
Sehabis nonton film, dia melewati sebuah toko yang menjual berbagai pernak-pernik. Di sanalah matanya langsung tertuju pada satu Tech Deck 26 mm yang sudah termasuk tools, wheels, dan sticker. "Entah kenapa itu langsung menarik perhatian," ujarnya.
Fingerboard itu akhirnya dibeli. Begitu sampai rumah, rasa penasarannya makin besar. "Pas saya beli, saya langsung buka YouTube, nyari mini skate. Eh malah ketemu banyak video fingerboard, termasuk tutorialnya." Sebenarnya ketertarikannya bukan datang begitu saja. Dari dulu Faris memang sudah suka skateboard, terutama lewat game Tony Hawk. "Emang basic-nya suka skateboard dari game Tony Hawk kali ya, jadi lumayan paham tipis-tipis soal sparepart-nya. Kebetulan ada momen tadi, jadi saya ngulik bener-bener bermodal tutorial YouTube," tuturnya.
Fingerboard pertamanya adalah Tech Deck bergrafik Flip Ali Boulala. Menariknya, deck itu masih dia simpan sampai sekarang, bahkan sudah dia setup lagi. "Masih ada sampai sekarang dan kebetulan saya setup lagi," ucapnya. Sementara untuk deck maple pertamanya, Faris menggunakan Samwood standar dengan logo engrave. Dari situlah dia mulai mengenal setup fingerboard yang lebih serius.
Seperti hampir semua fingerboarder, ada satu momen yang bikin semuanya berubah: berhasil mendaratkan trik pertama. "Berhasil satu trick pertama itu puas banget, terus makin niat buat seriusin barang ini," ungkapnya.
Sejak saat itu, fingerboard nyaris nggak pernah jauh dari kesehariannya. "Sekarang di tas saya selalu standby fingerboard. Jadi setiap hari pasti ada jatah cetak-cetek," jelas Faris. Kalau lagi ada waktu luang dan ketemu teman-teman, sesi main biasanya berubah jadi sesi ngopi sekaligus filming. "Kalau yang bener-bener proper biasanya random aja manggil temen-temen, ngajak ngopi, terus filming tipis-tipis."
Buat Faris, alasan masih bertahan di fingerboard sebenarnya sederhana. "Karena fleksibel di tengah kesibukan," katanya. Tapi bukan cuma itu. Setelah lebih dari satu dekade, terlalu banyak cerita yang sudah terhubung dengan fingerboard untuk ditinggalkan begitu saja. "Story gue yang ngelibatin fingerboard juga lumayan banyak. Jadi sayang aja kalau beneran ninggalin skena ini. Minimal buat diri sendiri dulu deh," imbuhnya.
Meski begitu, ada satu hal yang masih sering dia rasakan sampai sekarang. Bermain sendirian di tempat umum ternyata masih bikin canggung. "Kalau sendirian di tempat umum sih berasa diawasin banget," akunya. Sebaliknya, saat berada di rumah dengan meja favoritnya, suasananya benar-benar berbeda. "Kalau sendirian di rumah, di meja kesayangan, itu ego buat nyoba trick yang gahar tinggi banget."
Yang paling berkesan buat Faris ternyata bukan soal trick atau gear. Justru perubahan terbesar datang dari kehidupan sosialnya. "Dari awal gue udah bilang kalau gue ini orangnya monoton. Sosial gue, jujur, kurang," tutur Faris. Fingerboard perlahan memaksanya keluar dari zona nyaman. "Berkat fingerboard gue jadi kenal banyak orang, ngobrol sana-sini, jadi lebih pede buat speak up," lanjutnya.
Bahkan menurutnya, kalau fingerboard nggak pernah mampir ke hidupnya, mungkin hidupnya akan berjalan sangat berbeda. "Kalau fingerboard nggak pernah mampir ke hidup gue, kayaknya gue jadi ansos deh," katanya.
Dari fingerboard, satu demi satu pintu lain ikut terbuka. Mulai dari mengenal brand kaos, brand skateboard, nongkrong di kafe buat filming, ikut komunitas, sampai akhirnya tertarik dengan dunia kamera dan smartphone untuk membuat video. "Intinya, jadi lebih banyak bersosialisasi," pungkasnya.
Waktu ternyata mengubah cara Faris memandang proses belajar. Kalau dulu satu trick belum berhasil, jawabannya cuma satu: ulangi terus sampai tangan pegal. "Dulu kalau belum berhasil ya coba lagi sampai pegal-pegal," kenangnya.
Sekarang, pendekatannya lebih santai. Kesibukan kuliah dan aktivitas sehari-hari membuat waktu untuk benar-benar mengulik trick sudah jauh berkurang. "Kalau sekarang ya ngulik boleh, capek jangan. Udah nggak banyak waktu buat ngulik serius," ujarnya.
Meski begitu, masih ada beberapa trick yang jadi kebanggaannya. Di flatground, Faris sudah berhasil menguasai nollie 360 inward dan switch 360 inward. Sementara satu trick yang sampai sekarang masih terus dia perjuangkan adalah nollie laserflip dan switch laserflip.
Perjalanan panjang di fingerboard juga bukan berarti selalu mulus. Ada masa ketika kondisi ekonomi membuat hobinya nyaris berhenti total. "Waktu deck rusak dan kondisi ekonomi lagi turun, saya sempat males main. Sampai benar-benar nggak bisa beli apa pun, jadi cuma bisa minjem fingerboard teman buat main," tuturnya.
Untungnya, fase itu tidak berlangsung selamanya. "Sekarang trick saya udah lumayan banyak. Saya juga udah lama berdampingan sama fingerboard, masih aktif ikut kompetisi juga, jadi nggak ada alasan buat berhenti," lanjut Faris.
Bagi Faris, fingerboard dan kehidupan punya satu kesamaan. "Dua-duanya harus diulik sepenuh hati. Kalau nggak sepenuh hati, ya waktu dan tenaga bakal kebuang," jelasnya.
Saat ditanya soal pelajaran dari kegagalan, Faris justru memberikan jawaban yang cukup menarik. Menurutnya, tidak semua trick harus dipaksakan untuk dikuasai. "Kadang kita gagal bukan karena kurang latihan, tapi memang itu bukan passion kita. Boleh aja terus ngulik, tapi kalau emang trick itu bukan passion, mungkin saatnya cari trick lain yang lebih cocok," urainya.
Soal reaksi keluarga, ceritanya juga cukup lucu. "Dulu mereka sempat ngamuk. Duit habis, terus bunyi fingerboard juga berisik," katanya. Semuanya berubah ketika fingerboard mulai menghasilkan sesuatu. "Mulai diem setelah saya bawa pulang sertifikat sama hadiah uang dari kompetisi," imbuhnya. Teman-temannya pun menganggap fingerboard sebagai hobi yang keren, meski sampai sekarang belum ada yang benar-benar berhasil dia racuni untuk ikut bermain.
Kalau soal komentar miring dari orang yang menganggap fingerboard cuma mainan, Faris punya cara menjawab yang khas. "Kalau cuma dicemooh sih diemin aja," katanya. Tapi kalau komentarnya sudah kelewatan, dia biasanya memberi tantangan sederhana. "Suruh aja coba kickflip. Kalau nggak bisa, ya mending diem aja, Pak," ucapnya sambil tertawa.
Perjalanan Faris mengenal komunitas dimulai pada 2012 ketika akhirnya bertemu Sriwijaya Fingerboard. Saat itu juga ada IFA dan PapanJari yang aktif di Facebook. Sebelum bertemu komunitas, Faris ternyata menghabiskan sekitar dua tahun berlatih sendiri. "Dua tahun itu jari saya benar-benar 'dikarantina' buat latihan," kenangnya.
Meski begitu, ternyata dia tidak benar-benar sendirian. Tetangganya yang juga teman warnet sekaligus seorang tuna wicara menjadi partner bermain selama masa-masa awal tersebut. "Kami sering ngulik bareng di sekitar rumah," ceritanya. Temannya itulah yang pertama kali mengenalkan keberadaan komunitas Sriwijaya Fingerboard, sekaligus sering menunjukkan video-video fingerboard dari luar negeri. "Kalau nggak salah waktu itu komunitas Rebel Fingerboard dari Filipina," ujarnya.
Saat akhirnya bergabung dengan komunitas, Faris langsung diterima dengan baik dan diberi kesempatan berkontribusi dalam berbagai kegiatan. Bahkan di kompetisi pertamanya, hasilnya langsung di luar dugaan. "Langsung dapat juara di salah satu kategori," katanya. Kompetisi berikutnya bahkan lebih mengejutkan lagi. "Kayaknya menang tiga dari lima kategori," lanjutnya, lalu tertawa. "Mungkin karena dua tahun ngulik sendiri itu latihannya Spartan banget."
Kalau ditanya mimpi yang berkaitan dengan fingerboard, jawabannya ternyata sederhana. "Punya pekerjaan yang layak," jawab Faris. Bukan untuk menjadi terkenal, melainkan supaya kalau ada produk fingerboard baru yang menarik, dia nggak perlu berpikir dua kali untuk membelinya.
Di luar fingerboard, Faris juga punya hobi lain. "Mancing sama nonton anime," katanya. Meski begitu, fingerboard tetap menjadi teman yang selalu mengisi sela-sela aktivitasnya hingga hari ini.
Hal yang paling dia syukuri saat ini bahkan bukan soal prestasi atau koleksi setup. "Masih hidup," ucapnya singkat. Menurutnya, masih banyak hal yang ingin dia eksplorasi, termasuk dunia fingerboard itu sendiri. Tahun lalu dia berhasil mengikuti FastFingers Online 2025 dan finis di peringkat 17 besar. Bagi Faris, pencapaian itu saja sudah lebih dari cukup untuk disyukuri.
Kalau masih ada yang bersikeras menganggap fingerboard cuma mainan, jawaban Faris tetap sama. "Suruh aja coba. Nanti juga tahu sendiri seperti apa 'mainan' yang dimaksud," tegasnya.
Saat diminta mendeskripsikan fingerboard hanya dalam satu kalimat, Faris menjawab tanpa ragu. "Benda sihir yang mendampingi perjalanan hidup saya," ucapnya.
Lalu, untuk siapa pun yang baru ingin mencoba fingerboard, dia punya satu pesan sederhana. "Kalau menurut kalian skateboard itu keren, coba deh main fingerboard. Nggak kalah keren kok," pungkas Faris. (Flikmagazine)


Post a Comment