Bunky Pradetia: From Hating Fingerboarding to Becoming a UAG Japan Team Rider
"Halo FLIK Magazine! terima kasih banyak buat effort-nya bikin media ini dan ngangkat fingerboard sebagai materi utama. Semoga media ini bisa ikut besar seiring perkembangan scene fingerboard, baik di Indonesia maupun luar negeri."
Begitulah Bunky Pradetia membuka ceritanya. Santai, ramah, dan tanpa banyak basa-basi. Di balik sosok yang kini dikenal sebagai salah satu fingerboarder paling aktif di Indonesia, ternyata ada kisah yang cukup ironis. Sulit dipercaya kalau dulu Bunky justru termasuk orang yang nggak suka fingerboard.
FLIKMAG | Worldwide Magazine on Fingerboard Culture
Pria berusia 33 tahun kelahiran Jakarta berdarah Minang ini pertama kali mengenal fingerboard saat masih kecil. Seperti kebanyakan anak-anak pada masanya, Tech Deck menjadi pintu masuk pertama. Namun alih-alih jatuh cinta, Bunky justru merasa sebaliknya.
"Karena nggak ngerti cara mainnya, jadi ya nggak begitu interest. Bahkan bisa dibilang kesel sama kegiatan ini. Ya emang nggak tahu aja cara mainnya," tuturnya.
Saat teman-temannya memainkan papan kecil itu, Bunky memilih skateboard sungguhan. Buatnya, berdiri di atas papan dengan empat roda terasa jauh lebih menarik dibanding memainkan versi mininya menggunakan jari.
Siapa sangka, bertahun-tahun kemudian hidup justru mempertemukannya kembali dengan benda yang dulu sempat ia benci. "Turns out gue kena karma yang cukup dalam," kata Bunky kepada Flik Magazine.
Tahun 2015, Bunky mendapat kesempatan bekerja sebagai shopkeeper di Fingerdex, salah satu toko fingerboard yang saat itu cukup dikenal di Pasar Santa, Jakarta. Niat awalnya sederhana. Dia hanya ingin menjaga toko. Fingerboard masih belum benar-benar menarik perhatiannya.
Sampai suatu hari seseorang menyodorkan sebuah setup fingerboard ke tangannya. "Pas dikasih setup buat pegangan, eh malah harus nelen ludah sendiri waktu itu ," ujar ia.
Kalimat berikutnya langsung disampaikan sambil tertawa. "And the rest is history."
Menariknya, Bunky justru mulai bermain ketika kondisi fingerboard Indonesia sedang memasuki masa yang menurutnya kurang ideal. "Pas awal main tahun 2015 itu kondisinya lagi declining. Emang ada siklus lima tahunan di fingerboard. Lima tahun rame, lima tahun drop. Nah, pas gue mulai main, lagi masuk fase drop."
Banyak pemain lama mulai sibuk dengan pekerjaan dan kehidupan masing-masing. Regenerasi komunitas belum berjalan maksimal sehingga scene terasa jauh lebih sepi dibanding beberapa tahun sebelumnya. Namun buat Bunky, kondisi itu bukan alasan untuk berhenti belajar.
Justru di masa itulah ia menemukan sesuatu yang selama ini hilang sejak meninggalkan skateboard. "Fingerboard ini bisa ngobatin rasa kepengen gue jadi pemain skate yang proper," ceritanya.
Kesibukan memang membuatnya tak lagi rutin bermain skateboard. Tapi rasa cintanya terhadap budaya skate tidak pernah benar-benar hilang. Ia masih mengikuti perkembangan brand, fashion, video, hingga kultur skateboard dari seluruh dunia.
Fingerboard menjadi cara lain untuk tetap terhubung dengan dunia yang ia cintai. "Walaupun beda dari segi skala, ternyata fingerboard bisa ngobatin itu semua."
Hari-harinya di Fingerdex pelan-pelan mengubah hidupnya. Orang yang dulu mengaku benci fingerboard kini justru menghabiskan banyak waktu untuk latihan, mengulang trick berkali-kali, dan terus mencari gaya bermainnya sendiri.
Di sisi lain, owner Fingerdex memberikan kepercayaan besar kepadanya. Bukan hanya menjaga toko, tetapi juga mengelola berbagai kebutuhan operasional. Karena hampir setiap hari berada di balik toko, banyak pelanggan yang mengira Fingerdex adalah miliknya. "Kayak ada label di jidat gue kalau itu toko gue," lanjut ia.
Ketika Fingerdex tutup pada 2017, label itu ternyata masih melekat. Nama Bunky sudah lebih dulu dikenal oleh banyak orang di scene. Lalu datang pandemi.
Saat banyak orang harus berdiam diri di rumah, Bunky justru melihat kesempatan untuk menjaga komunitas tetap hidup. Ia memanfaatkan berbagai fitur media sosial yang saat itu sedang berkembang dengan mengadakan sesi live bersama teman-teman fingerboard dari berbagai daerah. Isinya sederhana: ngobrol, berbagi informasi, saling belajar, sekaligus mengenalkan fingerboard kepada orang-orang yang baru tertarik dengan hobi ini.
Perlahan, semakin banyak orang mengenalnya. Bukan hanya sebagai rider, tetapi juga sebagai salah satu sosok yang aktif menghidupkan scene fingerboard Indonesia. Kepercayaan pun terus berdatangan. Ia sempat dipercaya menjadi admin media sosial komunitas fingerboard Indonesia untuk membantu mengelola akun sekaligus membuat berbagai aktivasi.
Lalu pada 2023, sebuah lingkaran seolah kembali menutup dengan sempurna. Setelah sempat hiatus, Fingerdex kembali membuka toko. Dan Bunky kembali menjadi frontman di sana.
Kalau perjalanan itu sudah terasa seperti sebuah kebetulan yang indah, cerita berikutnya bahkan lebih sulit dipercaya. Suatu pagi di hari kerja, sekitar pukul 10, Bunky baru saja bangun tidur. Masih mengumpulkan nyawa sambil minum air putih, ia membuka ponselnya seperti biasa. Di sana ada sebuah DM Instagram.
Pengirimnya adalah UAG Jepang. "To be honest, itu di luar perkiraan. Gue bener-bener nggak ada ekspektasi apa-apa," katanya.
Mereka menghubunginya secara langsung dan mengatakan menyukai cara Bunky bermain fingerboard. Tanpa proses yang panjang ataupun pengajuan sponsor, mereka mengajak Bunky bergabung sebagai team rider. "Kalau dibilang proses, ya nggak ada. Itu out of the blue aja."
Belakangan mereka mengaku sebenarnya sudah beberapa bulan memperhatikan permainan Bunky sebelum akhirnya memutuskan menghubunginya.
Reaksi pertama Bunky? "Mixed feeling banget."
Ia masih mengingat jelas momen itu. "Bingung, seneng, aneh, kaget, ngantuk, seger... jadi satu semua."
Sampai hari ini pun ia mengaku belum pernah benar-benar bertanya alasan utama kenapa UAG memilih dirinya. Namun buat Bunky, mungkin memang bukan itu yang paling penting.
"Menurut gue ya kita main fingerboard itu fokus aja buat main dan terus ngasah cara main. Kalau tiba-tiba disponsorin, ya anggap aja itu bonus atau bentuk apresiasi dari usaha yang udah kita lakuin."
Sebagai sponsor internasional pertamanya, ada satu momen yang sampai sekarang masih sulit ia lupakan. Melihat nama dan fotonya terpampang di website UAG sebagai salah satu team rider. "Itu udah jadi hal yang bener-bener gila buat gue."
Dulu ia adalah anak yang kesal melihat Tech Deck.
Hari ini, namanya berdiri sejajar dengan rider-rider dari berbagai negara. Kalau bukan karma, mungkin memang ini cara hidup menunjukkan bahwa kadang sesuatu yang paling kita benci justru bisa membawa kita ke tempat yang paling tidak pernah kita bayangkan.
Kalau ada satu hal yang membuat Bunky selalu optimistis melihat masa depan fingerboard, itu adalah komunitas.
Dari obrolan-obrolannya dengan teman-teman di UAG, menurutnya perkembangan scene di Jepang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Awalnya, banyak orang hanya memandang fingerboard sebagai "orang main Tech Deck". Tidak lebih dari mainan kecil.
Namun semuanya mulai berubah setelah pandemi.
"Post-COVID orang-orang jadi lebih aware sama fingerboard. Mereka mulai interest ngeliat orang main dan suka kagum sama trick-trick yang dilakuin," urainya.
Kalau ada satu perbedaan yang paling terasa, menurut Bunky, justru Indonesia punya sesuatu yang sangat kuat: komunitas.
Di banyak kota besar, komunitas fingerboard terus bermunculan. Bahkan beberapa kota memiliki sub-community dengan karakter masing-masing. Baginya, keberagaman itu justru menjadi kekuatan. "Komunitas menurut gue fondasi awal buat kegiatan ini."
Bukan tanpa alasan. Tanpa komunitas, menurutnya, tidak akan ada ruang yang bisa menampung orang-orang yang ingin belajar atau sekadar bermain bersama.
Memang, ada juga orang yang menikmati fingerboard sendirian di rumah. Tidak ada yang salah dengan itu. Namun berdasarkan pengalamannya, bermain sendiri jauh lebih cepat menimbulkan rasa bosan.
"Kalau lo udah bosen dan sendiri, kemungkinan buat ninggalin hobi ini jauh lebih besar. Tapi kalau masih ada temen yang main, dia pasti bisa nyemangatin lo buat tetap berkembang bareng."
Di situlah komunitas bekerja. Bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi tempat saling menjaga semangat. Perjalanan Bunky sampai hari ini juga bukan sesuatu yang ia anggap sebagai hasil usahanya seorang diri.
Ada banyak nama yang menurutnya layak mendapat ucapan terima kasih. Yang pertama tentu Kang Danan, owner Fingerdex, yang dulu memberinya kesempatan sekaligus kepercayaan penuh untuk mengelola toko.
Lalu ada Angga Panda dan Hendra Caps, Founder dan Co-Founder Papanjari, yang ikut membangun pondasi komunitas fingerboard Indonesia. Bunky juga tidak melupakan orang-orang yang percaya kepadanya sejak awal. Adhi dari Rusewood, Mang Wahyu dari Rainwood, Aconk dari Illegal Ramps, Yusuke dan Stanley dari UAG, serta Moi dari Vision Tires.
Belum lagi teman-teman dari berbagai brand yang selama ini mempercayainya mengelola produk-produk mereka sejak masa Fingerdex di Pasar Santa hingga sekarang. Namun di atas semua itu, ada dua kelompok yang paling ia syukuri.
Teman-teman fingerboard Indonesia yang selalu mendukungnya untuk terus berkarya. Dan sang istri, Chia.
"Dia bener-bener ngedukung gue sepenuhnya, dari awal kenal gue yang cuma main doang sampai sekarang ada di titik ini," ujarnya.
Kalau harus memilih satu momen yang paling membekas sepanjang perjalanannya di dunia fingerboard, Bunky tidak memilih saat menerima sponsor internasional. Bukan pula ketika namanya muncul di website UAG.
Pikiran Bunky justru langsung kembali ke tahun 2022. Saat itu ayahnya mengalami serangan jantung dan harus segera dilarikan ke rumah sakit.
Di waktu yang sama, Bunky sedang aktif membuat konten dan rutin mengadakan sesi live tentang fingerboard. Bahkan beberapa saat sebelum kabar itu datang, ia masih berdiskusi dengan Angga Panda mengenai sebuah aktivasi komunitas.
"Tengah ngobrol, gue langsung cut pembicaraan dan bilang bokap gue masuk rumah sakit." Jawaban Angga sederhana.
"Yaudah Bunk, temenin dulu aja bokap. Semoga lekas pulih." Sejak hari itu Bunky menghilang dari media sosial.
Semua aktivitas fingerboard ia tinggalkan sementara demi menemani sang ayah. Sehari kemudian Angga kembali menghubunginya.
Awalnya hanya menanyakan kabar. Namun di akhir percakapan, Angga mengatakan ada titipan dari teman-teman fingerboard Indonesia. Bunky baru tahu bahwa setelah mendengar kabar ayahnya sakit, Angga mengabarkan situasi itu kepada komunitas.
Tanpa diminta. Tanpa diumumkan secara besar-besaran. Teman-teman fingerboard dari berbagai tempat langsung mengumpulkan donasi untuk membantu keluarganya. "Sampai sekarang gue nggak tahu siapa aja yang ikut berdonasi dan dari mana aja."
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun dampaknya sangat besar. "Di titik itu gue langsung sadar kalau I owe this scene big time."
Baginya, fingerboard tidak lagi sekadar soal trick, sponsor, atau konten. Scene ini pernah hadir ketika keluarganya sedang berada di masa yang sulit. Dan itu menjadi sesuatu yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidup.
Mungkin itulah alasan kenapa Bunky tidak pernah benar-benar berpikir untuk berhenti bermain fingerboard. "Fingerboard itu udah jadi stress relief gue."
Saat pekerjaan menumpuk atau pikirannya sedang penuh, ia tidak merasa harus memainkan trick yang rumit. Kadang satu atau dua trick sederhana saja sudah cukup membuat kepalanya terasa lebih ringan.
Kalau dibandingkan dengan saat pertama kali ia bermain pada 2015, perkembangan fingerboard hari ini menurutnya sudah melesat sangat jauh. Pandemi memang menjadi salah satu titik balik terbesar.
Ketika semua orang mencari aktivitas baru selama di rumah, fingerboard mendapat sorotan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ditambah lagi media sosial saat itu terus menghadirkan fitur-fitur baru yang membuat orang semakin sering menghabiskan waktu secara online.
Hasilnya terasa sampai sekarang. "Bukan cuma di Indonesia, di luar negeri juga scene-nya growth banget. Baik dari sisi pemain maupun brand."
Menariknya lagi, setiap kota punya gaya bermain yang berbeda. Buat Bunky, hal itu justru membuat fingerboard semakin hidup. "Sama kayak skateboard. Mereka punya genre masing-masing, tapi bahasanya tetap satu."
Perbedaan style itu memberi banyak referensi bagi pemain baru untuk menemukan identitas mereka sendiri. Kalau boleh bermimpi, Bunky punya satu harapan sederhana.
Ia ingin suatu hari nanti Indonesia memiliki event fingerboard berskala nasional yang benar-benar bisa mempertemukan seluruh komunitas dalam satu tempat. Memang tidak mudah.
Indonesia dipisahkan oleh lautan. Jarak dan biaya perjalanan jelas menjadi tantangan terbesar. "Tapi gue berharap suatu hari nanti kita bisa punya annual event yang bener-bener mempertemukan semua fingerboarder lokal buat main bareng seharian."
Sebuah mimpi yang terdengar sederhana, tetapi akan menjadi perayaan besar bagi sebuah komunitas yang tumbuh dari pertemanan. Di luar fingerboard, Bunky masih menikmati membuat dan mengedit video. Ia juga hobi bermain game.
Lalu ia tertawa ketika menyebut satu cita-cita yang masih tersimpan. "Pengen jadi musisi."
Kalau ditanya apa arti fingerboard buat hidupnya, jawabannya bahkan lebih singkat. "Everything."
Bukan jawaban yang berlebihan. "Mungkin kalau bukan karena fingerboard, gue nggak akan ada di titik sekarang ini." And I'm grateful for it.
Kalau bisa kembali bertemu dirinya yang dulu, Bunky hanya ingin mengatakan dua kalimat. "It's okay. Jalanin aja. Nggak usah gengsi karena lo main fingerboard."
Lalu ia tertawa lagi sebelum menambahkan kalimat kedua. "Haha... mampus, karma kan lo!"
Untuk siapa pun yang baru ingin mulai bermain fingerboard, pesannya juga sederhana. "Hobi ini butuh proses dan nggak bisa instan. Kalau lo mau nikmatin prosesnya, hobi ini cocok buat lo. Tapi kalau lo nggak mau berproses, masih ada waktu buat cari hobi yang lain."
Mungkin memang itu inti dari semua perjalanan Bunky. Bukan soal menjadi rider internasional. Bukan soal dikenal banyak orang. Melainkan tentang menikmati proses, bertemu orang-orang baik, dan menemukan rumah di sebuah papan kecil yang dulu pernah ia benci. Kadang, hidup memang punya cara yang lucu untuk membawa seseorang pulang. (Flik Magazine)


Post a Comment