As More Indonesian Women Take Up Fingerboarding, Nia Brings Them Together
Kalau melihat Titania Livia Cahyadi atau yang akrab dipanggil Nia hari ini, mungkin orang hanya melihat seorang mahasiswi berusia 22 tahun yang sedang menjalani perkuliahan sekaligus magang di sebuah perusahaan di Surabaya. Namun, di sela kesibukan itu, ada satu benda kecil yang sudah menemaninya selama sebelas tahun: fingerboard.
FLIKMAG | Worldwide Magazine on Fingerboard Culture
Perjalanan Nia dengan fingerboard dimulai jauh sebelum ia benar-benar memegang papan kecil itu. Sejak kecil, ia memang menyukai olahraga. Saat memiliki waktu luang, ia sering mengajak sepupu-sepupunya bermain basket atau badminton. Dari situ, ketertarikannya pada skateboard mulai tumbuh.
Menurutnya, skateboard terlihat sangat menarik. Sayangnya, saat itu ia merasa tidak memiliki keberanian untuk benar-benar mencobanya. Sebagai seorang perempuan, ia mengaku takut terjadi sesuatu jika bermain skateboard, sehingga keinginan itu akhirnya ia urungkan.
Hingga suatu hari pada tahun 2015, sebuah tayangan televisi mengubah semuanya. Saat itu, Nia melihat liputan mengenai komunitas fingerboard bernama Indonesia Fingerboard Association (IFA). Baru saat itulah ia mengetahui bahwa ternyata ada miniatur skateboard yang bisa dimainkan layaknya skateboard sungguhan.
Momen itu mengingatkannya pada seorang adik kelas yang pernah menggunakan foto profil fingerboard. Rasa penasaran membuatnya bertanya mengenai apa sebenarnya fingerboard dan di mana bisa mendapatkannya. Setelah percakapan itu, ia mulai mencari tahu lebih banyak melalui media sosial.
Ketertarikannya muncul karena fingerboard terasa seperti perpaduan dari dua hal yang ia sukai sejak kecil. "Aku suka olahraga dan sesuatu yang berbentuk miniatur. Fingerboard adalah sesuatu yang pas untuk menggambarkan kedua hal itu," tuturnya kepada Flikmag.
Tak lama kemudian, ayahnya membelikan fingerboard pertamanya. Brand yang ia dapatkan saat itu adalah Sbego, sebuah paket berisi tiga setup lengkap dengan obstacle yang dibeli di toko mainan yang letaknya hanya sekitar satu kilometer dari tokonya.
Fingerboard sederhana itu menjadi awal dari perjalanan panjang yang masih berlanjut hingga hari ini. Layaknya hampir semua fingerboarder, perjalanan Nia juga dimulai dari satu trick paling dasar: ollie.
Ia masih mengingat betul bagaimana rasanya berusaha selama kurang lebih satu minggu hingga akhirnya berhasil melakukan ollie dengan lancar. Perasaan senang itu kemudian berubah menjadi rasa penasaran yang semakin besar. Setelah ollie berhasil dikuasai, ia mulai mencoba trick lain seperti pop shove-it dan kickflip.
Kini, di tengah kesibukan kuliah dan magang, fingerboard tetap memiliki ruang tersendiri dalam hidupnya. Biasanya ia bermain pada sore hingga malam hari sepulang dari kantor. Saat akhir pekan, waktunya sedikit lebih longgar sehingga ia bisa bermain lebih lama jika sedang ingin.
Meski begitu, perjalanan sebelas tahunnya bukan berarti tanpa jeda. Sekitar tahun 2022 hingga pertengahan 2025, Nia mengaku hampir tidak bermain sama sekali. Kesibukan kuliah membuatnya memasuki masa hiatus yang cukup panjang. Fingerboard masih sesekali dimainkan, tetapi sangat jarang.
Semuanya berubah saat ia sedang mengerjakan tugas akhir. Selama hampir enam bulan, sebagian besar waktunya dihabiskan di dalam kamar, bergantian menatap layar laptop dan mengerjakan skripsi. Di tengah rutinitas yang melelahkan itu, saat membuka media sosial, ia mulai melihat semakin banyak perempuan yang aktif bermain fingerboard.
Pemandangan itu membuat semangatnya kembali muncul. Sejak pertengahan 2025, ia kembali bermain hingga sekarang.
Bermain sendirian ternyata menghadirkan dua perasaan yang berbeda. Di satu sisi, ia merasa senang karena bisa menikmati waktu sendiri sambil bebas mengulik trick sesuka hati. Namun di sisi lain, terkadang muncul rasa sepi karena ingin bermain bersama teman-teman, meski kesibukan masing-masing sering kali menjadi penghalang.
Fingerboard juga menjadi salah satu hal yang membantunya melewati masa-masa paling melelahkan selama mengerjakan tugas akhir. "Iya, khususnya saat pengerjaan tugas akhir. Selama enam bulan menghabiskan banyak waktu di kamar dan di depan laptop, fingerboard membuat aku lebih rileks dan menghilangkan stres," urai Nia.
Salah satu hal yang paling ia sukai dari fingerboard justru adalah prosesnya. Ketika sebuah trick belum berhasil, ia tidak langsung menyerah. Harus dicoba lagi sampai bisa. Kalau masih belum bisa, tetap berpikir positif bahwa suatu saat akan bisa, karena semuanya butuh proses. Mendapatkan satu trick itu butuh proses dan tidak bisa instan. "Justru itulah yang aku suka dari fingerboard. Fingerboard membuat kita lebih sabar dan lebih menghargai proses," tegas ia.
Menariknya, trick yang paling sulit baginya bukanlah trick yang rumit. Justru 360 Pop Shove-it, yang sering dianggap trick dasar, menjadi tantangan terbesarnya.
Menurut Nia, selama ini ia terbiasa melakukan ollie dengan mengangkat kedua jari secara bersamaan. Sementara pada 360 Pop Shove-it, hanya jari tengah yang melakukan pop, sedangkan jari telunjuk harus menahan papan. Akibatnya, papan justru sering berputar menjadi tre flip, bukan 360 Pop Shove-it seperti yang diinginkan.
Selama bermain fingerboard, ia memang pernah berhenti. Namun bukan karena frustrasi. Hiatus itu murni disebabkan kesibukan kuliah yang menyita hampir seluruh waktunya.
Baginya, belajar fingerboard tidak berbeda dengan menjalani kehidupan sehari-hari. "Mempelajari satu trick sama seperti mempelajari satu bidang dalam kehidupan yang mungkin selama ini tidak bisa kita lakukan atau raih. Ketika akhirnya berhasil mendapatkannya, kita pasti bangga terhadap diri sendiri," katanya.
Dari kegagalan mengulang trick yang sama berkali-kali, ia mendapatkan pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar kemampuan bermain. Ia belajar untuk bersabar, menikmati proses, menghargai setiap perkembangan kecil, sekaligus tidak membandingkan dirinya dengan orang lain.
"Setiap orang memiliki prosesnya masing-masing."
Di rumah, keluarganya sejak awal tidak pernah melarang ataupun memaksanya. Selama apa yang ia lakukan tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain, keluarganya selalu membebaskan pilihannya. Belakangan, ketika melihat Nia kembali aktif bermain fingerboard dengan sepenuh hati, keluarganya justru terlihat semakin antusias dan ikut senang melihat hobinya berkembang.
Tak sedikit pula teman yang menganggap fingerboard hanyalah mainan anak-anak. Nia tidak menyangkal anggapan itu.
Menurutnya, fingerboard memang sebuah mainan. Namun, ia percaya bahwa mainan ini bukan hanya untuk anak-anak, melainkan bisa dimainkan oleh siapa saja, dari berbagai usia. Biasanya ia akan menjelaskan bahwa fingerboard memiliki banyak manfaat, mulai dari melatih kesabaran hingga membuka relasi dengan banyak orang.
Sejak awal bermain, Nia memang langsung mencoba bergabung dengan komunitas Indonesia Fingerboard Association (IFA). Kemudian, saat kembali aktif pada pertengahan 2025, ia mengetahui bahwa di Surabaya terdapat komunitas yang juga aktif, yaitu Surabaya Fingerboard.
Di sana ia mulai mengenal lebih banyak teman, mengikuti beberapa turnamen, dan kembali menikmati atmosfer komunitas. Namun langkahnya tidak berhenti sampai di situ.
Melihat semakin banyak perempuan yang aktif bermain fingerboard di media sosial pada akhir tahun 2025, muncul sebuah gagasan sederhana.
Ia mendirikan komunitas Girl Fingerboarder ID, sebuah komunitas berbasis online yang mempertemukan para fingerboarder perempuan dari berbagai daerah di Indonesia.
Baginya, salah satu pengalaman paling berkesan dari komunitas adalah bertemu orang-orang yang memiliki hobi yang sama tanpa memandang latar belakang. Dalam perjalanannya, ada banyak orang yang berpengaruh.
Mulai dari adik kelas yang pertama kali mengenalkannya pada fingerboard, teman-teman berbagi cerita di masa awal bermain, hingga Kak Ringga Asikin yang video-videonya sangat berjasa dalam proses belajar berbagai trick.
Ada pula Kak Afi, satu-satunya teman perempuan dari komunitas IFA pada masa itu, yang hingga sekarang masih menjadi teman berbagi cerita mengenai trick, brand fingerboard, dan berbagai hal lain di dunia fingerboard.
Di luar fingerboard, Nia memiliki satu tujuan sederhana yang sedang ia perjuangkan. Ia ingin membahagiakan kedua orang tuanya melalui apa pun yang ia kerjakan.
Saat hidup terasa berat, biasanya ia memilih menghabiskan waktu sendirian di kamar. Ia akan berdoa, mendengarkan lagu, bernyanyi, membaca buku, atau bermain fingerboard, tergantung apa yang sedang ia butuhkan saat itu. Fingerboard juga menjadi ruang baginya untuk beristirahat sejenak dari rutinitas.
Karena mudah merasa bosan, bermain fingerboard menjadi salah satu cara yang paling efektif untuk menghilangkan kejenuhan. Ketika ditanya apa yang paling ia syukuri hari ini, jawabannya sederhana.
"Masih hidup sampai hari ini dan bisa melakukan apa yang saya sukai tanpa tuntutan atau terpaksa," tegasnya.
Lalu, bagaimana ia menjelaskan fingerboard kepada seseorang yang sama sekali belum pernah melihatnya?
Menurutnya fingerboard adalah miniatur skateboard yang praktis dan bisa dibawa ke mana pun. Terlihat seperti mainan biasa, tetapi manfaatnya jauh lebih besar daripada yang terlihat. Fingerboard, lanjutnya, membuat kita mengenal teman-teman dari berbagai daerah, belajar bersosialisasi, membangun relasi, menjadi lebih rileks, dan tidak takut gagal. Fingerboard juga merupakan aktivitas yang serius karena ada turnamen atau perlombaannya yang mampu menyatukan orang-orang dari berbagai belahan dunia.
Dan jika seluruh perjalanan sebelas tahunnya harus dirangkum hanya dalam satu kalimat, Nia tidak membutuhkan kata-kata yang rumit. "Benda kecil yang membuat kebahagiaan menjadi besar."
Untuk siapa pun yang baru ingin mencoba fingerboard, pesannya juga sederhana. "Jangan takut untuk mencoba bermain fingerboard dan jangan menyerah ketika gagal melakukan trick. Saat-saat bosan pasti ada, tapi jangan lupa untuk kembali lagi," terangnya. (Flik Magazine)


Post a Comment