Kenapa FLIK Magazine Ada?
Saya sudah menjadi wartawan selama belasan tahun. Dalam rentang waktu itu, saya mewawancarai orang-orang lebih dari 30 negara, mengedit ribuan artikel, dan mendengarkan begitu banyak cerita manusia.
Ada cerita tentang keberhasilan, kegagalan, perjuangan, kehilangan, harapan, dan mimpi. Semakin lama saya bekerja di dunia media, semakin saya yakin bahwa yang membuat sebuah kisah menarik bukanlah pencapaiannya semata, melainkan manusia di baliknya.
Kita mungkin mengagumi seseorang karena apa yang ia hasilkan, tetapi yang membuat kita terhubung adalah perjalanan yang ia lalui untuk sampai ke sana. Mungkin karena itulah saya jatuh cinta pada fingerboarding.
Di mata sebagian orang, fingerboard hanyalah skateboard kecil yang dimainkan dengan jari. Sebuah mainan, hobi, atau aktivitas untuk mengisi waktu luang. Tidak lebih dari itu. Namun semakin lama saya terlibat di dalamnya, semakin saya menyadari bahwa fingerboarding menyimpan sesuatu yang jauh lebih menarik daripada sekadar trik-trik yang berhasil didaratkan.
Di balik setiap kickflip, tre flip, atau grind yang terlihat sederhana, selalu ada seseorang dengan cerita hidup yang unik. Saya bertemu dengan orang-orang yang kembali bermain fingerboard setelah meninggalkannya selama belasan tahun.
Saya menemukan pekerja kantoran yang menggunakan fingerboard sebagai cara untuk melepaskan stres setelah seharian bekerja. Ada orang-orang yang awalnya bermain sendirian di kamar lalu menemukan persahabatan baru melalui komunitas. Ada yang membuat obstacle dengan tangan mereka sendiri, ada yang mengoleksi deck seperti mengoleksi karya seni, dan ada pula yang sekadar menikmati proses belajar tanpa pernah merasa harus menjadi yang terbaik.
Sebagai wartawan, saya selalu tertarik pada cerita-cerita seperti itu. Sayangnya, cerita semacam ini jarang mendapat ruang. Ketika fingerboarding dibahas, yang sering muncul adalah produk baru, hasil kompetisi, atau pemain-pemain yang sudah dikenal luas.
Semua itu tentu menarik dan penting untuk didokumentasikan, tetapi rasanya masih ada sesuatu yang kurang. Ada sisi manusia yang sering tertinggal. Padahal kultur apa pun sebenarnya dibangun oleh manusia biasa yang melakukan hal-hal luar biasa dalam skala mereka masing-masing.
Skateboarding bukan hanya soal trik. Musik bukan hanya soal lagu. Kopi bukan hanya soal minuman. Dan fingerboarding bukan hanya soal jari yang memainkan papan kecil di atas meja. Di balik semua itu ada pengalaman hidup, persahabatan, kreativitas, kegagalan, kesabaran, dan rasa ingin tahu. Ada manusia yang terus mencoba, jatuh, lalu mencoba lagi. Ada orang-orang yang menemukan kegembiraan dalam hal-hal sederhana yang mungkin dianggap sepele oleh dunia luar.
FLIK Magazine lahir dari keyakinan itu.
FLIK tidak dibuat karena kami melihat pasar yang besar. Fingerboarding mungkin tidak sebesar sepak bola, basket, atau olahraga populer lainnya. Komunitasnya relatif kecil, tersebar di berbagai kota dan negara, dan sering kali tumbuh secara organik tanpa sorotan media besar. Namun justru di situlah daya tariknya. Kultur-kultur kecil sering kali menyimpan cerita paling jujur. Cerita yang belum banyak ditulis. Cerita yang belum banyak didengar. Cerita yang layak didokumentasikan sebelum hilang begitu saja.
Kami percaya bahwa setiap fingerboarder memiliki cerita yang pantas untuk dibagikan. Tidak peduli apakah mereka seorang pemain yang sudah dikenal luas atau seseorang yang baru belajar ollie di lantai rumahnya. Kami ingin mengetahui bagaimana mereka mengenal fingerboard, apa yang membuat mereka bertahan, siapa orang-orang yang mereka temui di perjalanan, dan bagaimana hobi kecil ini memberi warna dalam kehidupan mereka. Karena sering kali yang paling berkesan bukanlah trik tersulit yang pernah dilakukan seseorang, melainkan alasan mengapa ia terus bermain hingga hari ini.
Sebagai seseorang yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di dunia jurnalistik, saya melihat FLIK sebagai tempat bertemunya dua hal yang saya sukai: bercerita dan fingerboarding. Majalah ini bukan hanya tentang fingerboard itu sendiri, melainkan tentang kultur yang tumbuh di sekitarnya. Tentang orang-orang yang membangunnya, menjaga semangatnya, dan terus membuatnya hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tentang sesi-sesi kecil yang mungkin terlihat biasa, tetapi menyimpan kenangan yang akan diingat bertahun-tahun kemudian.
Pada akhirnya, FLIK Magazine dibuat karena kami percaya bahwa cerita selalu penting. Sebuah kickflip mungkin hanya berlangsung sepersekian detik, tetapi perjalanan untuk mempelajarinya bisa berlangsung berbulan-bulan. Sebuah obstacle mungkin hanya terbuat dari kayu dan beton, tetapi ada kreativitas dan kerja keras di balik pembuatannya. Sebuah sesi fingerboard mungkin hanya berlangsung satu sore, tetapi bisa menjadi momen yang menghubungkan seseorang dengan teman-teman baru, inspirasi baru, atau bahkan versi baru dari dirinya sendiri.
Kami ingin mendokumentasikan semua itu. Kami ingin mengarsipkan kultur ini, merayakan orang-orang di dalamnya, dan memberikan ruang bagi cerita-cerita yang mungkin tidak pernah mendapat tempat di media lain. Karena bagi kami, fingerboarding tidak pernah hanya tentang papan kecil dan jari. Fingerboarding selalu tentang manusia.
Selamat datang di FLIK Magazine.


Post a Comment