Trust the Flick! Pelajaran Tentang Kesabaran dari 16 Tahun Bermain Fingerboard
Hujan turun tiba-tiba di Kota Salatiga. Sore itu, sekitar 16 tahun lalu, Adya Nadira Arzak sedang menjalani rutinitas yang sudah akrab baginya. Sebagai seorang rider fixed gear, ia hampir setiap hari berlatih di Alun-Alun Pancasila atau Selasar Kartini. Namun hari itu berbeda.
FLIKMAG | The Worldwide Fingerboard Culture Magazine
Langit mendadak gelap. Hujan turun deras. Adya dan beberapa temannya berlari mencari tempat berteduh di depan sebuah ruko yang sedang tutup. Di tempat itulah semuanya bermula. "Seseorang mengeluarkan skateboard mini," kenang Adya.
Ia tidak bisa diam. Dari kejauhan, matanya terus memperhatikan benda kecil yang dimainkan temannya itu. Sebenarnya, dunia skateboard bukan sesuatu yang asing baginya. Jauh sebelumnya, Adya sudah mengenal skateboard lewat permainan video Tony Hawk's Pro Skater. Ia bahkan pernah mencoba bermain skateboard sungguhan. Sayangnya, percobaan itu berakhir dengan cedera dan membuatnya memutuskan beralih ke dunia fixed gear.
Tetapi skateboard mini yang ia lihat sore itu terasa berbeda. Ketika diberi kesempatan memegangnya, Adya langsung tertarik. "Saya memang suka sama hal-hal yang kecil, compact, bisa dibawa ke mana-mana. Saya juga suka belajar hal baru yang unik."
Namun ada satu masalah. Fingerboard ternyata jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan. "Saya pikir gampang. Ternyata susah banget."
Justru karena sulit itulah ia tertantang. Melihat keseriusannya, temannya akhirnya menghadiahkan sebuah fingerboard kepadanya. Sebuah Tech Deck kecil, model lama yang saat itu cukup populer. "Tech Deck yang masih ramping itu lho, tahun 2010-an. Itulah fingerboard pertama saya," ceritanya.
Tanpa disadari, hadiah sederhana itu menjadi awal perjalanan yang masih berlanjut hingga hari ini. Tahun 2010, Adya masih berstatus mahasiswa. Ia mengambil Jurusan Teknik Komposisi Musik dengan mayor Classical Guitar. Pendidikan musik yang dijalaninya ternyata memberi pengaruh besar terhadap cara ia belajar fingerboard.
Ia percaya bahwa seseorang tidak bisa melompati proses. Dalam gitar klasik, seorang pemain harus mempelajari dasar-dasar terlebih dahulu. Teknik seperti apoyando dan tirando harus benar-benar dikuasai sebelum melangkah ke materi yang lebih rumit.
Logika yang sama ia terapkan saat belajar fingerboard. "Saya cari dulu, teknik dasarnya apa sih? Ternyata Ollie."
Maka setiap hari ia berlatih Ollie. Tidak ada kickflip. Tidak ada trick-trick rumit. Hanya Ollie. Berulang-ulang. Berhari-hari. Berminggu-minggu. Dan anehnya, ia menikmati proses itu. "Saya sudah happy banget cuma bisa Ollie."
Setelah merasa benar-benar nyaman dengan Ollie, ia mulai mencari tutorial kickflip di YouTube. Hasilnya mengejutkan. Karena fondasinya sudah kuat, proses belajar kickflip berjalan relatif cepat.
Ketika pertama kali berhasil mendaratkan kickflip dengan sempurna, ada sensasi yang sulit dijelaskan. "Sampai sekarang rasanya masih sama. Happy. Puas."
Bagi Adya, ada sesuatu dalam fingerboard yang begitu cocok dengan dirinya. Presisi. Groove. Kebebasan. Tiga hal itu bertemu dalam satu papan kecil beroda empat.
Hari ini, usia Adya sudah 34 tahun. Sudah sekitar delapan tahun ia merantau ke Jakarta dari kota asalnya, Salatiga, Jawa Tengah. Kesibukannya jauh dari kata ringan.
Ia bekerja sebagai Head of Music Production di salah satu televisi nasional. Di luar pekerjaan utama, ia juga mengerjakan mixing dan mastering untuk berbagai proyek musik, terutama genre Jamaican Music, Jungle, dan turunannya.
Belum lagi aktivitas bersama band, produksi album, hingga berbagai proyek kreatif lain yang ia jalani. Tetapi di tengah semua kesibukan itu, ada satu benda yang hampir selalu menemaninya. "Saya selalu bawa fingerboard ke mana-mana."
Kadang dimainkan saat proses export audio berlangsung. Kadang setelah makan siang. Kadang ketika sedang menikmati secangkir kopi. Meski demikian, ia tetap tahu kapan harus menyimpannya. "Kalau ada orang lain, saya lebih pilih ngobrol."
Menariknya, Adya tidak pernah merasa dirinya sedang bertahan bermain fingerboard selama 16 tahun. Justru sebaliknya. Ia merasa menemukan sesuatu yang memang cocok menjadi bagian hidupnya.
"Musik itu sudah bukan hobi lagi buat saya. Musik itu way of life. Nah, fingerboard ini yang jadi hobinya." Dan menurutnya, setiap orang membutuhkan hobi.
Apa pun bentuknya. Bisa bermain game. Menggambar. Bersepeda. Atau fingerboard. Yang penting ada ruang untuk merasa bahagia.
Di balik video-video fingerboard yang terlihat santai dan menyenangkan, ada kisah yang jauh lebih personal. Adya mengaku fingerboard pernah menemaninya melewati masa paling sulit dalam hidup. Ia memilih tidak menceritakan detail persoalannya.
Terlalu pribadi, katanya. Namun satu hal yang ia ingat dengan jelas adalah bagaimana masa itu membuatnya kehilangan gairah terhadap sesuatu yang selama ini menjadi sumber semangatnya. "Saya sampai malas main musik. Malas bikin musik."
Padahal selama bertahun-tahun, musik adalah api yang terus menyala dalam hidupnya. Saat api itu meredup, ia menemukan pelarian yang tidak disangka-sangka. Fingerboard. "Saya lari ke fingerboard waktu itu."
Di sela-sela kesulitan yang sedang dihadapinya, fingerboard menjadi ruang aman. Ruang untuk bernapas. Ruang untuk fokus.
Ruang untuk melupakan sejenak berbagai hal yang sedang berantakan. "Thank you fingerboard sudah menemani dan menyembuhkan saya." Kalimat itu ia ucapkan dengan sederhana. Namun terasa sangat tulus.
Bagi orang yang belum pernah bermain fingerboard, mungkin sulit memahami kenapa seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendaratkan satu trick.
Namun bagi Adya, proses itu justru bagian paling menarik. Ketika sebuah trick belum berhasil, ia tidak langsung menyalahkan keberuntungan. Sebaliknya, ia mencoba menganalisis. "Ada yang salah dengan posisi jari, atau saya belum paham motion gerakannya."
Menurutnya, fingerboard membutuhkan imajinasi. Sebelum jari bergerak, pikiran harus mampu membayangkan gerakannya terlebih dahulu. "Kita harus bisa membayangkan motion-nya dulu. Kalau sudah bisa membayangkan, insya Allah pasti bisa kalau dilatih terus."
Meski sudah bermain selama 16 tahun, bukan berarti semua trick sudah ia kuasai dengan sempurna. Hingga sekarang, salah satu trick yang masih menjadi tantangan adalah Nollie Lazer Flip dan Switch Lazer Flip.
Sulit. Rumit. Dan kadang menyebalkan. Tetapi justru di situlah letak kepuasannya. Sekali berhasil, rasanya luar biasa. Namun keberhasilan itu tidak boleh berhenti di satu momen saja. "Kalau sudah pernah landing tapi tidak pernah dilatih lagi, ya lupa. Harus latihan lagi."
Karena pada akhirnya semua kembali ke muscle memory. Dan muscle memory dibangun oleh repetisi. Jangan Lompat-Lompat. Jika ada satu pelajaran yang paling sering ia ulang ketika berbicara tentang fingerboard, itu adalah pentingnya fondasi.
Jangan lompat-lompat. Kalimat itu berkali-kali muncul dalam ceritanya. Ia melihat banyak orang ingin cepat menguasai trick-trick sulit tanpa memahami dasar-dasarnya terlebih dahulu. Padahal menurutnya, semua hal besar selalu lahir dari hal kecil. "Sebelum berlari dan melompat, perlu merangkak dulu."
Pelajaran yang sama berlaku bukan hanya dalam fingerboard. Tetapi juga musik. Karier. Bisnis. Dan kehidupan.
Ketika berbicara tentang keluarga, nada Adya langsung mengembang. Ada satu sosok yang selalu menonton video-videonya: neneknya. "Nenek saya punya media sosial."
Bukan sekadar menonton. Sang nenek juga rutin memberikan tanda suka dan terkadang meninggalkan komentar sederhana. "Hebat dek."
Mungkin beliau tidak memahami trick yang sedang dimainkan. Mungkin juga tidak benar-benar mengerti apa itu fingerboard. Tetapi dukungan sederhana itu sangat berarti. "Wah, itu sesuatu sih buat saya."
Lalu ada istrinya. Sosok yang menurut Adya memiliki kesabaran luar biasa. Ia mencontohkan pengalaman ketika membuat seri video FlipTrip Bangkok. Selama lima hari perjalanan, hampir setiap menemukan spot menarik, Adya akan berhenti dan mencoba merekam trick sampai berhasil mendaratkannya. Kadang butuh waktu lama.
Kadang berkali-kali gagal. Namun istrinya tetap menunggu. "Mungkin kalau bukan dia sudah bad mood duluan."
Ia tertawa. Namun jelas terlihat rasa syukur dalam kalimat itu. "Udah Gede Masih Main Fingerboard". Sebagian besar teman-temannya mendukung. Bahkan ada yang tertarik belajar. Meski begitu, pernah ada satu orang yang berkomentar: "Udah gede masih main fingerboard."
Adya tidak marah. Ia hanya melihatnya dari sudut pandang berbeda. Menurutnya, orang tersebut mungkin belum menemukan hobinya sendiri. "Saya lihat dia enggak punya hobi."
Bagi Adya, hobi bukan soal usia. Hobi adalah ruang untuk menikmati hidup. Dan tidak ada batas umur untuk itu.
Jauh sebelum aktif membuat konten, Adya pernah membangun komunitas kecil bernama Salatiga Fingerboard. Jumlah anggotanya tidak banyak. Hanya sekitar lima orang. Tetapi mereka sangat aktif. Sering berkumpul. Berlatih bersama. Berdiskusi tentang trick.
Bahkan sempat mengadakan kompetisi dalam acara Hampra Fest dengan mengundang komunitas dari Semarang, Ungaran, dan Ambarawa.
Dalam perjalanan itu, ada beberapa nama yang sangat berpengaruh baginya. Salah satunya adalah Febri Bingo. Saat pertama kali belajar fingerboard, Adya hampir setiap hari bermain di rumah Febri hingga larut malam. Lucunya, saat itu Adya sudah kuliah sementara Febri masih SMP. "Sampai akhirnya dia enggak naik kelas." Adya tertawa mengenang masa itu.
"Saya sempat sebulan enggak ke sana dulu." Nama lain yang ia sebut adalah Fadli Aat atau AK47. Musisi dan DJ yang memperkenalkannya dengan komunitas fingerboard Jakarta.
Bahkan pernah memberinya setup impian yang sampai sekarang masih berkesan. Blackriver.
Saat ini Adya sedang berusaha memperbaiki banyak hal dalam hidupnya. Termasuk ibadah. Ia juga terus mencari peluang untuk meningkatkan pemasukan keluarga sekaligus mendukung hobinya yang, menurutnya, tidak murah.
Selain pekerjaan utama, ia aktif menerima proyek musik melalui platform freelance dan berhasil mencapai status Top Rated Five Stars sejak 2025. Ia masih bermain band. Masih membuat album. Masih bermimpi merilis vinyl. Dan masih menyimpan satu impian besar. "Pengen banget dapat AMI Awards. Bismillah."
Belakangan ia juga mulai menekuni dunia content creator. Bahkan sedang mempersiapkan rencana untuk menjual produk-produk fingerboard. "Doakan lancar ya."
Ketika ditanya bagaimana ia menghadapi hidup yang berat, jawaban Adya terdengar sederhana. Ia memilih fokus pada solusi. Bukan masalah. "Kita jangan fokus ke masalahnya. Fokus ke pemecahan masalah."
Ia membuat Plan A. Plan B. Plan C. Lalu menjalankan semuanya setenang mungkin. Di tengah proses itu, fingerboard tetap menjadi tempat beristirahat. Tempat untuk mengembalikan energi.
Tempat untuk mengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu harus datang dari hal-hal besar. "Satu perfect landing first try sebenarnya sudah cukup bikin seharian lega." Lalu ia tertawa.
Karena justru rasa lega itu yang membuat pemain fingerboard terus mencoba lagi dan lagi. Landing berikutnya. Dan berikutnya.
Jika harus menjelaskan fingerboard kepada seseorang yang belum pernah melihat skateboard sekalipun, Adya akan memulainya dengan demonstrasi sederhana. Menunjukkan papan kecil itu. Memainkannya.
Lalu mengajak orang tersebut mencobanya. Karena pada akhirnya fingerboard bukan sekadar mainan. Bukan sekadar hobi. Bukan pula sekadar kumpulan trick. Bagi Adya, fingerboard adalah sesuatu yang lebih dalam dari itu. Sebuah ruang kecil tempat seseorang belajar tentang kesabaran. Tentang proses. Tentang konsistensi. Tentang kegagalan dan keberhasilan. Tentang menikmati perjalanan.
Dan jika harus dirangkum dalam tiga kata, ia sudah menemukan definisinya sejak lama. "Fingerboard adalah tentang presisi, groove, dan kebebasan."
Untuk teman-teman yang ingin mencoba fingerboard, ujarnya, belajarlah dari trick dasarnya dulu dengan sabar, bertahap, sabar. Mulai dari Ollie dan Fakie dulu, cari tutorial, sampai lancar baru pindah ke pop-shove-it, lalu baru belajar flip, bisa kickflip dulu.
Kalah sudah, lanjut ke Nollie dan Switch lalu juga pop-shove-it lagi dan kickflip. "Kalau di konten saya (Instagram @fingerrrkind) nama segment untuk formula adalah TR1CK M4TH, itu tentang misalnya Kickflip + BS Pop-Shove-it = Varial Kickflip, 360 pop-Shove-It + Kickflip = Tre-Flip / 360 Flip," jelas ia. (FLIK Magazine)

Post a Comment